Belajar Fikih Online

https://hanifmencariilmu.wordpress.com

Hukum Zakat Emas Perhiasan

وهذا يسأل يقول هل في الحلي زكاة؟

Pertanyaan, “Adakah kewajiban zakat dalam emas yang hanya dijadikan sebagai perhiasan?”

هذه المسألة مما اختلف فيه العلماء قديما وحديثا، وجمهور العلماء على أنه لا زكاة في الحلي. وهو الراجح في مذهب الإمام أحمد وقد استدل الإمام أحمد بأن الخمسة من الصحابة منهم عائشة ومنهم أسماء رأوا أنه لا زكاة في الحلي إذا أعدته المرأة للتجمل لبعلها أو التجمل أمام نساءها ونحو ذلك وأمام نساء المسلمين.

Jawaban Syaikh Abdus Salam Barjas, “Permasalahan ini adalah permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama baik di masa silam atau pun di masa sekarang. Mayoritas ulama berpendapat tidak adanya kewajiban zakat pada emas yang dijadikan sebagai perhiasan. Itulah pendapat yang kuat dalam mazhab Imam Ahmad. Dalil Imam Ahmad adalah adanya lima shahabat Nabi diantaranya adalah Aisyah dan Asma yang berpendapat tidak adanya zakat dalam emas perhiasan yang memang diperuntukkan oleh seorang perempuan sebagai hiasan di depan suaminya atau sesama wanita, sesama wanita muslimah dan semacam itu.

وعائشة وأسماء وابن عمر وجابر وأظن أنسا معهم قد أجمعوا على أنه لا زكاة في الحلى وهم أعلم بهذه المسألة لأن بعضهم قد رووا الأحاديث التى فهم منها بعض العلماء أن زكاة الحلى واجبة.

Aisyah, Asma, Ibnu Umar, Jabir dan jika tidak salah ingat plus Anas, mereka semua berpendapat bahwa tidak ada kewajiban zakat untuk emas yang dijadikan sebagai perhiasan. Beliau-beliau lebih mengerti dalam masalah ini karena sebagian mereka adalah shahabat yang meriwayatkan beberapa hadits yang dipahami oleh sebagian ulama sebagai dalil wajibnya zakat dalam emas yang dijadikan sebagai perhiasan.

والأحاديث التى ظاهرها الوجوب هي محمولة على محامل وجيهة عند الإمام مالك وعند الإمام الشافعي وعند الإمام أحمد بن حنبل- رحمهم الله تعالى أجمعين.

Hadits-hadits yang sekilas menunjukkan wajibnya zakat dalam emas yang dijadikan sebagai perhiasan telah ditafsirkan dengan beberapa penafsiran yang tepat oleh Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal.

وعلى ذلك نقول إن الصواب عدم وجوب الزكاة في الحلي. وعلى المرأة أن لا تبالغ في هذه الزينة لأن الإسراف يدخل فيها كما يدخل في غيره.

Berdasarkan uraian di atas, kami katakan pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan tidak wajibnya zakat dalam emas yang diperuntukkan sebagai perhiasan [bukan investasi, pent]. Para wanita hendaknya tidak berlebih-lebihan dalam berdandan dengan perhiasan emas karena itu termasuk pemborosan sebagaimana ada juga pemborosan dalam permasalahan yang lain.

على كل، جميع ما وضعته المرأة من الحلي والزينة كثر أم قل لا زكاة فيه في أصح أقوال أهل العلم رحمهم الله تعالى.

Walhasil, semua emas perhiasan yang dikenakan oleh seorang wanita baik jumlahnya sedikit atau pun banyak itu tidak ada zakatnya menurut pendapat ulama yang paling kuat.

ولا نظر إلى كونه كثيرا أو إلى كونه قليلا، وإنما العبرة بأنه للزينة. فما دام أنه للزينة فالحكم ثابت وهو عدم وجوب الزكاة.

Jumlah yang sedikit atau pun banyak dalam hal ini tidaklah diperhitungkan. Yang menjadi tolak ukur manakala emas tersebut hanya dijadikan sebagai perhiasan maka hukumnya jelas yaitu tidak wajib dizakati.

فلو احتاج في زمان من أزمان إلى بيعه فباعت فإن ذلك لا يخرجه من نية الزينة التى تلبثت فيها لأن هذا الأمر طارئ فلا يرجع إلى ما ذهب من الزمان فلا يستظهر عكسيا.

Akan tetapi jika suatu ketika emas perhiasan tersebut perlu dijual lalu benar-benar dijual maka kondisi ini tidaklah mengeluarkan status emas tersebut sebagai perhiasan. Penjualan emas dalam hal ini adalah karena kondisi darurat sehingga hal tersebut tidaklah membatalkan status emas tersebut yang hanya diperuntukkan sebagai perhiasan.

ولذلك نقول إن بيعه عند الحاجة لا يؤثر على هذه النية.

Oleh karena itu, kami tegaskan bahwa dijualnya emas tersebut ketika diperlukan untuk dijual tidaklah mempengaruhi statusnya yang diniatkan hanya sebagai perhiasan.

لا يجوز للمرأة أن تلبس الحلى أمام الرجال الأجانب
Catatan:
Tidaklah diperkenankan bagi seorang wanita untuk memakai emas perhiasan [anting-anting, kalung, gelang, cincin, gelang kaki, pent] jika dalam kondisi bisa dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya” [Fatwa Abdus Salam Barjas pada tanggal 17 Juli 2003 di Provinsi Syariqoh Uni Emirat Arab dalam acara Liqa al Maftuh daurah beliau. Transkip fatwa di atas bisa disimak pada menit  06:32-10:00 dalam video rekaman acara di atas].

Post Navigation

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.